Tampilkan postingan dengan label arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arkeologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Desember 2013

Tlachihualtepetl, Piramida Terbesar di Dunia yang Telah Lama Hilang

Salah satu fitur yang paling terlihat di kota kecil San Andres Cholula, di wilayah Puebla Meksiko, adalah sebuah gereja yang dibangun di puncak bukit setinggi 180 kaki dari atas kota.

Gereja ini bernama Iglesia de Nuestra Senora de los Remedios (Church of Our Lady of Remedies), juga dikenal sebagai Santuario de la Virgen de los Remedios (Sanctuary of the Virgin of Remedies), yang dibangun pada tahun 1594 di atas sebuah candi pra-hispanik.


Gereja ini dibangun pada masa-masa Conquistadores (penaklukan spanyol di amerika latin), menjadikannya sebagai situs yang menarik. Apalagi dibingkai dengan puncak gunung berapi aktif, seperti dalam foto dibawah ini, yang merupakan salah satu foto pariwisata paling populer di Meksiko.


Oke, sekarang kita kembali pada masa-masa penaklukan Spanyol di Amerika Latin. Sebagai penakluk, mereka meruntuhkan kuil-kuil penduduk pribumi yang mereka temukan dan membangun gereja-gereja di tempat-tempat dimana kuil-kuil itu dulunya berdiri.

Itu cara orang Spanyol menegaskan dominasinya, dan juga menegaskan dominasi agama Katolik diatas agama-agama penduduk asli.

Penduduk asli Amerika telah menghabiskan ribuan tahun untuk membangun banyak candi dan kuil, jadi ada banyak gereja yang dibangun untuk menggantikan mereka.

Banyak dari candi-candi dan kuil-kuil yang dibangun penduduk asli Amerika, yang dibangun di atas piramida batu.

Nah, gereja kecil di Cholula yang sepertinya berdiri di atas bukit, ternyata berdiri di sebuah kompleks piramida yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia.


Mungkin ini adalah keajaiban terbesar pada dunia kuno yang seakan tidak akan pernah terlihat. Kita tidak bisa melihatnya karena tertutup tanah. Ini menjelaskan mengapa konstruksi besar ini sempat tidak dikenal, karena hanya terlihat sebagai sebuah gundukan tanah yang sangat tidak fotogenik.

Nama asli dari situs ini adalah "Tlachihualtepetl" (bahasa Nahuatl, yang merupakan bahasa lokal asli Amerika dari zaman suku Aztec, yang berarti "gunung buatan"). Ya, ternyata bukit ini di dalamnya terdiri dari susunan batu yang bukan alami.


Piramida ini dibangun dalam empat tahap, diperkirakan mulai dari abad ke-3 SM hingga abad ke-9 M, dan didedikasikan untuk dewa Quetzalcoatl.

Piramida ini luas dasarnya sekitar 450 m x 450 m, dan tinggi 66 m. Menurut Guinness Book of Records, Inilah piramida terbesar serta monumen terbesar yang pernah dibangun di dunia.

Dengan total volume diperkirakan lebih dari 4,45 juta m3 batu, bahkan lebih besar dari Piramida Agung Giza di Mesir yang hanya sekitar 2,5 juta m3 batu.

Namun Piramida Agung Giza lebih tinggi, karena tingginya mencapai 138,8 m. Suku Aztec percaya bahwa Xelhua lah yang membangun Piramida Besar Cholula.











Para peneliti telah menggali kembali terowongan-terowongan yang ada di dalam bukit, lebih dari delapan kilometer. Penelitian mereka menyimpulkan bahwa gaya arsitektur batu dan artefak yang ditemukan di situs ini memiliki kemiripan dengan Teotihuacan.


Sumber :
versesofuniverse

Kamis, 19 Desember 2013

Wow, Ditemukan Kandungan Berlian Dalam Jumlah Besar di Antartika

Ilmuwan menemukan jenis batuan langka berwarna kebiruan yang bernama kimberlite di salah satu gunung di Antartika yang menjadi pertanda awal terdapatnya berlian.

Keberadaan kimberlite telah lama menjadi petunjuk adanya berlian di Siberia, Afrika, dan Australia. Kini, untuk pertama kalinya, ilmuwan menemukannya di Antartika.

Kimberlite Stone

"Akan mengejutkan bila tidak ada berlian di kimberlite ini," kata Greg Yaxley dari Australia National University di Canberra yang memimpin riset seperti dikutip Reuters.

Mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal Nature Communcations, Yaxley mengatakan bahwa kimberlite ditemukan di Gunung Meredith, Pegunungan Prince Charles, Antartika Timur.

Meski kemudian penemuan ini memunculkan harapan penambangan berlian di Antartika, upaya mewujudkannya masih jauh dari harapan.

 
Pegunungan Antartika

"Fakta adanya kimberlite 'Grup satu' penting karena berlian memang sangat mungkin ditemukan di tipe kimberlite hasil erupsi ini," kata Teal Riley dari British Antartic Survey seperti dikutip BBC.

"Namun, bahkan dalam kimberlite Grup Satu, hanya 10 persen yang secara ekonomi bisa tampak, jadi masih sulit mengekstrapolasi hasil riset ini ke soal pertambangan berlian," imbuhnya.

Selain hambatan tersebut, ada pula hambatan legal yang membuat penambangan sulit dilakukan di Antartika, walaupun jumlahnya melimpah.

Ada Protocol on Envrironment Protection to the Antartic Treaty yang dibuat pada tahun 1991 yang secara jelas melarang aktivitas penambangan di sana.

Protokol akan dievaluasi lagi pada tahun 2041. Bila nantinya ada perubahan keputusan, barulah penambangan berlian dimungkinkan.


Sumber :
kompas

Jumat, 06 Desember 2013

Tsunami Dahsyat 2004 Mengungkap Misteri "Seven Pagodas" yang Telah Lama Hilang

Sebelum akhir 2004, semua bukti tentang keberadaan "Seven Pagodas" atau Tujuh Pagoda sebagian besar hanyalah legenda semata.

Keberadaan Shore Temple, candi yang lebih kecil dan Rathas hanya membuktikan bahwa daerah tersebut memiliki makna keagamaan yang kuat, tetapi ada sebuah bukti baru yaitu sebuah lukisan dari era Pallava yang menggambarkan sebuah komplek candi.


Ramaswami bahkan menulis secara eksplisit dibukunya tahun 1993 yang berjudul "Candi-Candi di India Selatan", bahwa "Tidak ada kota yang tenggelam di Mamallapuram. Julukan yang diberikan oleh orang Eropa , 'The Seven Pagodas' adalah irasional dan tidak dapat dipertanggungjawabkan".

Namun kemudian pada tahun 2002 para ilmuwan memutuskan untuk menjelajahi daerah lepas pantai Mahabalipuram, dimana banyak nelayan Tamil modern yang mengaku telah melihat sekilas reruntuhan di dasar laut.

Proyek ini merupakan upaya bersama antara National Institute of Oceanography (NIO, India) dan Scientific Exploration Society, (Vora, Inggris). Kedua tim menemukan sisa-sisa dinding di kedalaman 5 sampai 8 meter, dan 500 sampai 700 meter dari pantai.

Tata letak dinding tersebut mengisyaratkan bahwa mereka adalah dinding dari beberapa kuil. Para Arkeolog juga mengatakan bahwa dinding tersebut bertanggal kembali ke era Pallava, kira-kira saat Mahendravarman I dan Narasimharavarman I memerintah wilayah tersebut.

Para ilmuwan juga menambahkan bahwa situs bawah air mungkin mengandung struktur tambahan dan artefak, dan layak untuk dieksplorasi lebih lanjut di masa depan.


Sesaat sebelum tsunami

Sesaat sebelum tsunami 26 desember 2004 melanda Samudera Hindia, termasuk Teluk Benggala, air laut di lepas pantai Mahabalipuram surut sekitar 500 meter.

Banyak turis dan warga setempat yang menyaksikan peristiwa surutnya air laut ini, melihat barisan batu-batu besar yang panjang muncul dari air.

Setelah tsunami itu pergi, batu-batu ini tertutup kembali oleh air. Namun, sedimen yang berabad-abad telah menutupinya kini telah pergi. Tsunami juga membuat beberapa perubahan garis pantai, yang menyebabkan beberapa patung dan struktur kecil yang sebelumnya terendam air, ditemukan di pantai.

Candi yang terendam di Mahabalipuram


Setelah Tsunami

Kesaksian para saksi yang melihat semacam bangunan sesaat sebelum tsunami, kembali mendorong ketertarikan kalangan ilmiah terhadap situs ini.

Mungkin temuan arkeologi paling terkenal setelah tsunami adalah patung batu singa besar, yang muncul di pantai karena perubahan garis pantai Mahabalipuram yang disebabkan oleh tsunami.

Patung singa ini ternyata berasal dari abad ke -7. Penduduk setempat dan wisatawan telah berbondong-bondong untuk melihat patung ini tak lama setelah tsunami.


Pada April 2005, Survei Arkeologi India (ASI) dan Angkatan Laut India mulai mencari di perairan lepas pantai Mahabalipuram dengan perahu, menggunakan teknologi sonar (Das).

Mereka menemukan bahwa deretan batu-batu besar yang telah dilihat orang sesaat sebelum tsunami adalah bagian dari dinding setinggi 6 kaki dan panjangnya 70 meter.

ASI dan Angkatan Laut juga menemukan sisa-sisa dua candi terendam lain dan satu kuil gua dalam jarak 500 meter dari pantai. Meskipun temuan ini tidak atau belum begitu sesuai dengan mitos tujuh pagoda, setidaknya mereka menunjukkan bahwa sebuah kompleks besar kuil berada di Mahabalipuram.




Ini membuat mitos yang selama ini beredar menjadi lebih dekat dengan realitas dan ada kemungkinan lebih banyak penemuan yang menunggu untuk ditemukan.

Arkeolog ASI, Alok Tripathi mengatakan kepada The Times of India pada wawancara Februari 2005, bahwa eksplorasi sonar telah memetakan dinding dalam dan luar dari dua candi yang terendam.

Dia menjelaskan bahwa timnya belum bisa menunjukkan fungsi bangunan ini. A.K. Sharma dari Angkatan Laut India juga mengatakan kepada The Times of India bahwa tata letak struktur yang terendam ini terkait dengan Shore Temple dan struktur yang tidak terendam lainnya, dan juga cocok dengan lukisan era Pallava tentang komplek Tujuh Pagoda.


Arkeolog T. Satyamurthy dari ASI juga menyebutkan pentingnya temuan sebuah prasasti yang muncul di pantai setelah tsunami.

Prasasti tersebut menyatakan bahwa Raja Krishna III telah membayar para penjaga api abadi di sebuah kuil tertentu. Para arkeolog mulai menggali di sekitar prasasti tersebut ditemukan, dan dengan cepat menemukan struktur candi Pallava lain.

Mereka juga menemukan banyak koin dan item yang digunakan dalam upacara keagamaan Hindu kuno. Saat penggalian candi era Pallava ini, para arkeolog juga menemukan fondasi era Tamil Sangam, berusia sekitar 2000 tahun.

Kebanyakan arkeolog yang bekerja di situs percaya bahwa tsunami pernah melanda daerah ini kira-kira antara periode Tamil Sangam dan Pallava sehingga menghancurkan kuil tua.



Subrahmanya temple, salah satu candi yang terungkap oleh sunami 2004.
Dipercaya sebagai salah satu dari 7 Pagoda

ASI secara tidak sengaja juga menemukan struktur yang jauh lebih tua di situs ini. Sebuah struktur bata kecil, yang sebelumnya tertutup oleh pasir, muncul di pantai setelah tsunami.

Para arkeolog meneliti struktur itu, dan diketahui struktur itu berasal dari periode Tamil Sangam. Meskipun struktur ini tidak cocok dengan legenda tradisional, namun ini menambahkan intrik dan kemungkinan sejarah yang belum tereksplorasi di situs.

Pendapat di kalangan arkeolog saat ini adalah bahwa tsunami lain pernah menghancurkan kuil Pallava di abad ke-13. Ilmuwan ASI, G. Thirumoorthy mengatakan kepada BBC bahwa bukti fisik dari tsunami abad ke-13 dapat ditemukan di hampir sepanjang East Coast India.


Sumber :
versesofuniverse

Minggu, 01 Desember 2013

Peneliti Temukan Jamban Raksasa Berusia 240 Juta Tahun

Peneliti Argentina menemukan sebuah jamban raksasa kuno yang menjadi tempat binatang purba membuang kotoran mereka.


Dari penanggalan yang dilakukan peneliti, usia jamban itu diduga sekitar 240 juta tahun. Usia itu memecahkan rekor jamban kuno sebelumnya, yang lebih muda 20 juta tahun. Jamban itu bahkan lebih tua dari jamban mamalia.

Dilansir ABC.net.au, peneliti National Council of Scientific and Technical Investigation Argentina, Lucas Fiorelli, melaporkan jamban kuno ditemukan di barat laut Argentina.



Pada situs itu, peneliti menemukan 30.000 kotoran prasejarah, yang panjangnya beragam dari 0,5 hingga 35 cm. Pada beberapa titik, kotoran kuno itu bahkan menumpuk hingga 100 meter persegi.

Dalam pengujian lebih rinci, kotoran itu merupakan sisa dari keluarga Dicynodontes, reptil raksasa pemakan tumbuhan yang hidup dekat dengan masa dinosaurus awal.


"Ini merupakan bukti pertama jamban komunal mega herbivora pada binatang bertulang belakang non-mamalia. Ini mengindikasikan perilaku ini telah ada dalam kerabat jauh mamalia," tulis laporan penelitian itu.

Peneliti menduga kotoran itu memiliki beberapa fungsi penting. Di antaranya, fungsi kebersihan. Pembuangan kotoran dalam satu titik, kata peneliti bisa mencegah munculnya parasit baru. Selain itu jamban itu juga menjalankan fungsi keamanan, membatasi predator yang berliaran.


Sumber :
viva

Senin, 11 November 2013

Ditemukan, Fosil Tertua Serangga yang Sedang Bercinta

Saat melakukan penggalian di wilayah kaya fosil di Mongolia, ilmuwan menemukan fosil tertua serangga yang sedang bercinta. Penemuan tersebut dipublikasikan di jurnal PLOS ONE.

Chung Kun Shih, peneliti tamu di Capitol Norman University di China, yang terlibat riset, mengatakan, penemuan fosil serangga yang sedang bercinta sangat langka. Sampai saat ini, total hanya ada 40 penemuan.


Fosil serangga yang ditemukan merupakan jenis Anthoscytina perpetua, jenis kepik punggung bungkuk purba. Sepasang serangga yang memfosil itu berada dalam posisi berhadapan dengan organ kelamin jantan, aedegus, berada di dalam organ kelamin betina, bursa copulatrix.

"Organ jantan dan betina, kita bisa melihatnya dengan jelas. Ini amat langka," kata Shih seperti dikutip Livescience, Rabu kemarin.

Sejauh ini, fosil serangga bercinta yang ditemukan berasal dari masa 100 juta tahun lalu. Fosil ini lebih tua dan dinobatkan sebagai yang tertua karena berasal dari masa 165 juta tahun lalu.

Penemuan ini juga mengungkap bahwa perilaku seksual kepik punggung bungkuk tak banyak berubah sejak ratusan juta tahun lalu. Sejak dulu, fauna itu memang suka bercinta dengan posisi berhadapan saat berdiri di ranting pohon atau dengan posisi menyamping di atas daun.

Menurut ilmuwan, serangga yang memfosil itu kemungkinan sedang "berpelukan" ketika erupsi gunung berapi terjadi ratusan juta tahun lalu, melepaskan gas racun yang membunuh banyak fauna hingga mikroba. Angin kemudian mengirim kepik punggung bungkuk itu ke danau terdekat, menguburnya di dalam tanah dan mengawetkannya.

Ilmuwan belum mengetahui apakah posisi bercinta serangga itu memang sejak awal saling berhadapan atau pada awalnya menyamping sebelum akhirnya berganti karena pengaruh alam.


Sumber :
kompas

Kamis, 17 Oktober 2013

Fosil Nyamuk 46 Juta Tahun: Memang Penghisap Darah

Saat menggali di daerah pegunungan Montana, AS, tak sengaja tim ilmuwan dari National History Museum Smithsonian menemukan fosil nyamuk yang  terbungkus baik di dalam serpihan batu lumpur.

 
 
 
Setelah diteliti, mereka menyatakan bahwa fosil nyamuk yang ditemukan diperkirakan hidup di pertengahan Zaman Eosen, yaitu sekitar 56 sampai 33,9 juta tahun lalu. Zaman Eosen terkenal dengan periode di mana konsentrasi karbon di atmosfer sangat rendah, sehingga menyebabkan kepunahan besar di Bumi.

"Temuan ini menunjukkan bahwa nyamuk telah menghisap darah selama jutaan tahun lalu. Itu dibuktikan dengan adanya darah di dalam perut nyamuk yang masih terawat dengan baik," kata Dr Dale Greenwalt, Paleobiologist dari National History Museum Smithsonian.

Menarik, fosil nyamuk tersebut masih menyimpan darah yang dikonsumsi dari mangsanya. Sehingga menimbulkan rasa penasaran para ahli, mahluk jenis apa yang dihisap darahnya.

"Saat ini, kami belum mengetahui siapa yang menjadi mangsa nyamuk itu. Tim sedang meneliti lebih jauh zat besi yang ada di dalam di perut fosil nyamuk itu. Kami sangat penasaran nyamuk itu menghisap darah makhluk apa," ujar Greenwalt.

Hasil temuan pun kembali membuktikan bahwa molekul organik dapat diawetkan dalam waktu puluhan juta tahun.

Temuan ini telah dipublikasikan di Jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.













Sumber:
viva.

120 Juta Tahun Lalu, Burung Punya Dua Ekor

Tim paleontologi dari Chinese Academy of Sciences, di Beijing, China, mengungkapkan bahwa 120 juta tahun lalu burung memiliki dua ekor. Temuan ini membuat jalur evolusi yang rumit dari spesies burung.

Melansir Fox News, hal itu diketahui dari fosil burung purba Jeholornis. Habitatnya di China bersama hewan pra-sejarah lainnya.


Burung Jolohornis [ilustrasi]

Dari temuan fosil, Jeholornis merupakan burung berukuran lebih besar dari kalkun, memiliki cakar pada sayap-sayapnya, dan terdapat tiga gigi kecil di bagian rahang bawah.

Uniknya, para ahli paleontologi juga menemukan Jeholornis jantan mempunyai ekor yang panjang dan berjumlah dua. Belum diketahui apa fungsi dari dua ekor itu, apakah sebagai pendukung terbang atau hanya berfungsi untuk memikat lawan jenisnya.

"Dua ekor yang ditemukan pada burung Jeholornis sangat mengherankan. Ini merupakan jalur evolusi baru untuk hewan spesies burung," kata Jingmai O'Connor, Pemimpin Penelitian dari Chinese Academy of Sciences.

"Fungsi salah satu ekor yang dipenuhi bulu-bulu berwarna-warni sepertinya mirip dengan fitur yang ada pada burung merak, yaitu untuk memikat perhatian lawan jenisnya," ujar O�Connor.


Burung Jolohornis [ilustrasi]

Namun, menurut Julia Clarke, ahli paleontologi dari University of Texas, AS, fungsi dari dua ekor adalah untuk menciptakan stabilitas terbang.

Sebagian menyimpulkan, salah satu ekor itu sepertinya tidak mempunyai fungsi tertentu dan berevolusi menjadi satu ekor saja pada burung-burung modern.

"Bentuk dua ekor itu adalah sebuah jalur evolusi pada spesies burung. Tapi, temuan dua ekor pada burung Jeholornis adalah aneh dan ganjil," tutup Clarke.

Hasil penelitian sudah diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences dengan judul "Unique caudal plumage of Jeholornis and complex tail evolution in early birds."


Sumber :
viva.co.id

Jumat, 11 Oktober 2013

Bukti Komet Tertua Ditemukan di Perhiasan Raja Tutankhamun Mesir

Sebuah tim ilmuwan dari Afrika Selatan menemukan bukti komet pertama dan tertua yang masuk ke atmosfer Bumi dan meledak, hal itu diungkapkan oleh Jan Kremer dari University of Johannesburg di Afrika Selatan.


Bros milik raja Tutankhamun Mesir yang pada bagian batu kuningnya merupakan batu
yang dihasilkan oleh dampak komet 28 juta tahun lalu. (University of the Witswatersrand)

Kremer menyatakan bahwa sebuah batu hitam yang ditemukan beberapa tahun lalu di Mesir ternyata merupakan inti komet tertua yang ditemukan di Bumi dan setelah diteliti ternyata batu itu berhubungan dengan perhiasan raja Firaun Tutankhamun.

Silika sebagai dampak dari komet itu ternyata dijadikan bros oleh raja Mesir Tutankhamun. 28 Juta tahun lalu komet memasuki atmosfer Bumi di atas daratan yang saat ini adalah Mesir. Komet itu memanaskan pasir di bawahnya hingga mencapai suhu 2000 derajat Celcius sehingga membentuk kaca silika kuning yang sangat banyak dan mencakup area seluas 6000 kilometer persegi di gurun Sahara.


Raja Tutankhamun. (google)

Silika kuning yang tercipta itu ternyata ditemukan di bros milik Tutankhamun, raja Firaun Mesir yang terkenal yang memerintah dari tahun 1333-1323 SM.


Sumber :
astronomi.us

Rabu, 09 Oktober 2013

Platybelodon, Gajah Purba yang Mirip Monster

Pasti kamu sudah tidak asing lagi dengan gajah, hewan yang memiliki belalai dan berukuran besar ini ternyata memiliki bentuk yang sangat aneh ketika zaman purba.


Sebuah laporan dari dari Daily Mail memberitahukan bentuk gajah purba yang sangat aneh, gajah purba ini tidak memiliki belalai seperti gajah moderen melainkan memiliki mulut yang panjang dan lebar mirip seperti sekop.

Diperkirakan pada awal mula kehidupan gajah ini sekitar 20 juta tahun lalu, hidup di dekat perairan, sehingga bentuk mulut yang mirip seperti skop digunakan untuk mengali makanan di rawa rawa. Nah nama gajah purba ini dikenal sebagai Platybelodon.


Platybelodon sendiri memiliki sebuah gading besar yang tumbuh menyeruak di sudut bibirnya yang digunakan sebagai pengoyak vegetasi yang sulit.


Gajah purba ini tidak seperti hewan hewan purba lainya yang memiliki ukuran yang besar, gajah ini lebih kecil dari gajah modern yang ada. Hewan ini hidup antara 8 hingga 20 juta tahun yang lalu di daratan Afrika, Eropa, Asia, dan Amerika Utara. Pada masa itu mereka mampu berkembang biak sebelum akhirnya punah.


Sumber :
palingseru.com

Jumat, 23 Agustus 2013

Misteri Makam Genghis Khan

Saat kematian Genghis Khan tahun 1227, tak ada yang mengetahui keberadaan makamnya. Konon, saat pemakaman dilakukan pengawalan dan membunuh siapa saja yang melintasi jalan mereka untuk menyembunyikan lokasi pemakaman.

Mereka yang membangun makam Genghis Khan juga diyakini tewas, dan salah satu sumber sejarah menyatakan bahwa 10000 penunggang kuda menginjak-injak tanah pemakaman. Ada pula yang mengatakan bahwa di lokasi pemakaman ditanami pepohonan dan sungai dialihkan.





Sejak 800 tahun kematiannya, orang-orang telah berusaha mencari makam Genghis Khan sang penakluk dunia di abad ke-13.

Kehidupan Genghis Khan merupakan legenda hingga kematiannya diselimuti mitos. Beberapa sejarawan meyakini bahwa dia meninggal karena luka akibat pertempuran, sementara beberapa orang lain berpendapat bahwa Genghis Khan jatuh dari kuda atau meninggal karena sakit.

Para ahli masih memperdebatkan keseimbangan antara fakta dan fiksi, sebagai sumber sejarah yang ditempa dan terdistorsi. Namun banyak sejarawan meyakini bahwa Genghis Khan tidak dikuburkan sendiri, penerusnya diperkirakan telah dimakamkan dengan dirinya di pemakaman yang luas, dan mungkin menyimpan harta jarahan ketika masa penaklukan.



ubpost.mongolnews.mn


Pada awal tahun 1960-an orang Jerman melakukan ekspedisi yang menemukan pecahan tembikar, paku, keramik, batu bata, dan fondasi candi di daerah gunung suci. Mereka menemukan tugu nisan, pakaian besi, panah, dan persembahan lainnya, tetapi makam sedikit yang ditemukan.

Setelah runtuhnya rezim komunis Soviet, sebuah ekspedisi yang dipimpin Jepang didanai oleh surat kabar Yomiuri Shimbun terbang dengan helikopter ke puncak gunung itu dan membuahkan hasil. Pada tahun 2001 sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh Maury Kravitz, mencari daerah makam namun dilarang oleh pihak berwenang untuk memasuki gunung.

Beberapa arkeolog menyarankan bahwa ratusan tugu kecil (nisan) yang ditemukan pada tahun 1960 itu benar-benar kuburan. Tapi tim peneliti yang melakukan survei geofisika saat ini tidak menemukan adanya gambaran ilmiah dalam teori makam Genghis Khan.

Situs pemakaman Genghis Khan saat ditemukan tahun 2010

Sebuah proyek penelitian yang menggabungkan para ilmuwan Amerika dengan ulama Mongolia memiliki bukti kuat adanya lokasi situs pemakaman Genghis Khan dan pemakaman keluarga Kekaisaran Mongol di pegunungan, daerah terpencil barat laut Mongolia. 

Untuk mencapai pegunungan Khentii, tim peneliti harus melalui lintasan timur dari Ulan Bator, melewati patung Genghis Khan sebelum mencapai kota tambang Baganuur. Ritual monumen dan situs pemakaman tersebar di seluruh lanskap, para arkeolog telah menemukan makam di atas makam, di mana suku yang berbeda dari era yang berbeda telah menggunakan ruang ritual yang sama.

Artefak mangkuk porcelain berukir naga yang ditemukan di pemakaman Genghis Khan

Di laboratorium University of California-San Diego, tim peneliti menyisir volume besar melalui resolusi citra satelit dan membangun rekonstruksi 3 dimensi dari scan radar. Ribuan relawan secara online menyaring 85,000 gambar resolusi tinggi untuk mengidentifikasi struktur tersembunyi atau seperti formasi aneh.

Tim ini telah menemukan struktur besar yang dibangun pada abad ke-13 atau ke-14, di daerah yang secara historis telah dikaitkan dengan makam ini. Para ilmuwan juga menemukan berbagai artefak yang mencakup mata panah, porselen, dan berbagai bahan bangunan yang diyakini berasal dari masa kepemimpinan Genghis Khan.
































Sumber:
nbcnews.
cutpen